7 Perubahan Dunia Sains dan Teknologi Akibat Virus Corona

Pandemi virus corona diprediksi mengubah kehidupan manusia selamanya. Dunia teknologi pun tidak luput dari perubahan ini.

Sebanyak 34 pakar dari berbagai bidang dimintai pendapat dan analisa oleh majalah politik online Amerika, Politico.com. Salah satu bidang yang dikupas adalah sains dan teknologi.

Pertanyaannya, bagaimana virus corona akan mengubah dunia sains, teknologi dan kehidupan digital manusia ke depannya. Seperti dilihat detikINET, Kamis (26/3/2020) ada 8 pakar sains dan teknologi yang angkat bicara membahas 7 hal yang akan mengalami perubahan sebagai berikut:

1. Aturan yang menahan cara online akan hancur

Selama ini, masih ada beberapa aturan yang mencegah beberapa prosedur dan mekanisme dalam bidang kehidupan masyarakat, supaya tidak dilakukan online. Misalnya saja beberapa jenis tagihan bulanan, aturan birokrasi dan lain-lain.


Namun menurut pimred majalah Reason, Katherine Mangu-Ward, wabah corona mau tidak mau membuat orang beralih semua ke online. Aturan-aturan birokrasi yang selama ini meminta tatap muka antara masyarakat dan pemerintah atau pihak tertentu, tidak bisa dipertahankan lagi.

Salah satunya adalah sekolah. Homeschooling dan e-learning selama ini terbentur masalah birokrasi. Dengan wabah virus corona, tidak ada alasan lagi untuk menahan pendidikan jarak jauh. Sejumlah layanan publik dari pemerintah juga akhirnya dibuat online sepenuhnya di beberapa negara.

 

 

 

2. Kehidupan digital menjadi lebih sehat

Profesor Sherry Turkle dari MIT Amerika Serikat dan pengarang Reclaiming Conversation: The Power of Talk in a Digital Age membuat analisa bahwa pandemi COVID-19 membuat kehidupan digital akan menjadi lebih sehat.

Orang-orang yang menghabiskan waktu dengan gawainya, mulai berpikir untuk mencari manfaat lebih baik. Beberapa contohnya pemain cello Yo-Yo Ma membuat postingan konser harian untuk netizen. Penyanyi Broadway Laura Benanti meminta penampil musik di sekolah yang batal tampil, mengirimkan pertunjukannya kepada dirinya.

Banyak pakar yoga memberikan kelas online gratis dan hal sejenisnya. Jika ini dilanjutkan menurut Sherry Turkle, maka manusia akan mewariskan kebiasaan baru yang positif.

3. Virtual reality makin populer

Presiden Vassar College, Elizabeth Bradley mengatakan virtual reality akan semakin dapat tempat di hati orang-orang. Ini logis saja, ketika kita diisolasi, dikarantina atau sendirian, maka VR menawarkan kita pengalaman ‘pergi’ ke tempat lain secara virtual.

Elizabeth membayangkan VR akan berkembang untuk membantu orang bersosialisasi dan membantu kesehatan mental orang yang mengisolasi diri. Misalnya dengan perangkat VR, kita bisa berjumpa orang di ruang kelas atau pertemuan warga virtual dan ini memberikan hal positif secara psikologis.

4. Era kebangkitan telemedicine

Kepala departemen etika kedokteran dan kebijakan kesehatan Universitas Pennsylvania, Ezekiel J Emanuel berpendapat wabah corona menjadi awal kebangkitan dari telemedicine. Klinik remote menggantikan klinik konvensional yang kewalahan menghadapi pandemi.

Pasien bisa menjaga diri dalam lingkungan yang terkendali, tapi bisa video call dengan dokter, tanpa harus menunggu di ruang tunggu dan jauh dari pasien lain yang bisa menulari atau bahkan kritis.

Berbagai aplikasi kedokteran kini menawarkan konsultasi dokter online dengan dokter bersertifikasi. Resep dan obat bisa dikirim dengan kurir. Kekurangannya mungkin adalah dokter tidak bisa memeriksa langsung pasiennya.

 


5. Sains kembali diagungkan

Direktur YIMBY Law, Sonja Traus mengatakan sains sempat mengalami degradasi di era sekarang. Definisi kebenaran menjadi sangat politis, bergantung kekuatan politik tertentu. Bahkan industri seperti migas dan tembakau sering menolak hasil riset ilmiah yang dinilai merugikan mereka. Ada orang yang malah percaya bumi datar daripada astronomi sungguhan. Di situasi awal, kehadiran virus corona juga dituduh sebagai bagian dari konspirasi politik. Anda merasakan itu juga bukan?

Namun, ketika wabah corona semakin menjadi-jadi, akhirnya orang-orang berbondong-bondong ingin kembali kepada sains yang sesungguhnya. Mereka minta kembali kepada riset ilmu pengetahuan sejati. Apa yang telah dilakukan ilmuwan, apa itu teori kuman, dan belajar soal grafik exponential growth mengenai orang positif corona yang meledak jumlahnya.

Sonja memprediksi sampai 35 tahun ke depan, orang kembali menghargai kepakaran para ilmuwan khususnya bidang kesehatan masyarakat dan epidemi.

6. Senja kala Social Justice Warrior

Terkait dengan prediksi mengenai kehidupan digital yang lebih sehat pasca wabah virus corona, ada prediksi juga kalau fenomena Social Justice Warrior (SJW) akan berubah. Hal ini dikatakan Direktur Strategi Vote Common Good, Amy Sullivan.

Pandemi virus corona membuat umat beragama beribadah dengan cara yang baru untuk menghindari penularan. Hal itu mendorong manusia untuk lebih terkoneksi secara virtual.

Kegiatan kontemplatif dan perenungan hidup akan meningkat. Akibatnya, akan muncul titik jenuh terhadap sepak terjang pelaku Social Justice Warrior yang selama ini cuap-cuap mendefinisikan kebenaran versi mereka sendiri.

Ketika semua orang menderita, terisolasi dan beribadah jarak jauh, ini sungguh bukan momennya untuk menjadi netizen maha benar. Orang-orang butuh empati dan aksi nyata, bukan diceramahi lagi.

7. Pemerintahan virtual

Ethan Zuckerman adalah associate professor di MIT, Direktur Center for Civic Media dan pengarang buku Digital Cosmopolitans: Why We Think the Internet Connects Us, Why It Doesn’t, and How to Rewire It. Dia berpendapat usai wabah virus corona, bersiap-siaplah untuk pemerintahan virtual.

Wabah corona menyebabkan anggota DPR tidak bisa berkumpul rapat demi mencegah penularan. Di Amerika saja, anggota DPR sudah positif kena COVID-19. Mengatur pemerintahan secara virtual kini menjadi solusi yang dipikirkan.

Teknologi dipakai supaya anggota dewan dan pemerintahan bisa tetap bekerja tanpa langsung bertatap muka. Sementara itu, perintis startup Democracy Live, Joe Brotherton menambahkan, terkait dengan pemerintahan virtual ini, maka pemilu elektronik juga akan menjadi tren baru.

Pemilihan suara untuk memilih anggota parlemen atau kepala daerah, akan lebih aman dari wabah penyakit kalau TPS-nya dibikin virtual. Namun pemilu elektronik menuntut adanya perangkat mobile yang aman, transparan, dan efektif dari segi biaya serta teknologi yang mumpuni.

https://inet.detik.com/cyberlife/d-4953831/7-perubahan-dunia-sains-dan-teknologi-akibat-virus-corona

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp

Tinggalkan Komentar

Scroll to Top